Happiest Season: Komedi Romantis LGBT Tak Perlu Berakhir Menyedihkan


Happiest Season merupakan film yang santer dibicarakan oleh kanal ulasan film di YouTube belakangan ini. Menyambut datangnya natal dan pergantian tahun, biasanya ada deretan sinema-sinema spesial. Di 2020, salah satunya adalah Happiest Season, dibintangi oleh Kristen Stewart dan Mackenzie Davis (Black Mirror: San Junipero), disutradarai oleh Clea DuVall.

Film ini bercerita tentang Abby (Kristen Stewart) yang diajak oleh kekasihnya, Harper (Mackenzie Davis), menghabiskan natal di rumah keluarganya. Tapi Harper lupa kalau keluarganya tidak tahu bahwa dirinya gay. Jadi, Abby pun harus menyembunyikan status hubungan mereka dari keluarga dan teman-teman Harper.



Tak hanya dari penampilan kedua pemeran utama, kekuatan film ini juga datang dari penulis skrip yang apik. Banyak sekali foreshadowing dan dialog lucu, membuat cerita yang sebenarnya bisa jadi amat serius dan triggering, menjadi lebih menyenangkan dan asik untuk ditonton. Misalnya, ketika Abby ingin menghampiri Harper di lantai atas, nyaris ketahuan sampai mau tidak mau dia harus bersembunyi dalam lemari. Kalau gay pasti ngertilah...

Penyelesaian dari masalah Abby dan Harper juga tidak datang dengan mudah, sehingga kita sebagai penonton, ikut deg-degan, panik, bingung, sewaktu menyaksikan kisah mereka terbuka satu per satu. Ending cerita yang bersentral pada karakter LGBT, memang seringnya sedih, tidak memuaskan, atau meninggalkan perasaan menyakitkan yang terlalu dalam, tapi lain halnya dengan Happiest Season. Akhir dari kisahnya memberikan sebuah revolusi, sehingga kita bisa menikmati, dan memiliki kesan membahagiakan. Konfliknya pun relevan, dan saya yakin, siapa saja pasti enjoy menonton film ini.



Happiest Season, merupakan film penting di 2020. Tak peduli apa pun anggapan konservatif, menurutku cerita semacam ini perlu diapresiasi dan didukung, kalau perlu dibicarakan terus-menerus. Sama seperti film Love, Simon yang sempat mendobrak gerbang film mainstream, menghadirkan karakter LGBT pertama untuk kalangan remaja. Semoga dengan adanya Happiest Season, akan lebih banyak lagi film liburan yang bersentral pada karakter LGBT.

Tess Wibisono

Hello there, I’m a multidisciplinary artist; I write, draw, and design things. I study Japanese literature, humanities and creative robotics. instagram email

Kamu bisa beri komentar sebagai Anonim, NAMA dan URL Medsos, atau akun Google. Tidak ada moderasi komentar di situs kami. Isi komentar pengguna di luar tanggunjawab Moonhill Indonesia.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama

Mau terus update? Ikuti kami di Telegram, Whatsapp atau langganan surat kabar via email di bawah ini, GRATIS!!!



Jika blog ini bermanfaat, kamu bisa mendukung kreator menghasilkan lebih banyak konten bermanfaat dengan cara memberi donasi.