Penyebab Tragedi Halloween di Itaewon dan Pelajaran yang Bisa Kita Ambil Bersama

(CNN Indonesia / Lee Ji-Eun)

Prof. Rhenald Kasali pernah bilang kalau tahun-tahun setelah regulasi pandemi dilonggarkan, akan terjadi ledakan kerumunan di luar rumah. Soalnya, selama pandemi, 2 tahun lamanya kita harus berada di rumah dan tidak bisa menikmati event seperti sebelumnya.

Tapi siapa yang menyangka kalau tragedi perayaan Halloween berubah menjadi kengerian yang menewaskan 150 jiwa dan puluhan terluka. Banyak anak muda kehilangan nyawa karena crowd crush di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. Beberapa di antaranya adalah wisatawan asing.

Buruknya desain lokasi yang tak dibuat untuk menampung besarnya volume pengunjung, ditambah dengan kurangnya persiapan dari penyelenggara acara, serta buruknya logistik, menjadi alasan kerumunan orang menjadi begitu mematikan akhir tahun ini.

Sebelum mulai, saya perlu menyampaikan;
Our deep condolences to the victims’ families and friends. We mourn and pray, may all the injured victims could recover quickly.

Apa itu crowd crush dan stampede?

Dilansir dari Aljazeera, peristiwa tragis di ibu kota Korea Selatan itu digambarkan sebagai crowd crush atau lonjakan jumlah orang, yang berbeda dengan stampede (terinjak-injak / berdesak-desakan).

Crowd crush adalah ketika orang-orang berdesakan di ruang terbatas dan terus mendorong, menyebabkan kerumunan jatuh dalam “efek domino” sehingga sulit bagi orang untuk bangun lagi. Semakin besar kerumunan, semakin kuat efek crowd crush.

Jenazah korban tragedi Itaewon dijejerkan di pinggir jalan. (Kompas.com/YELIM LEE)

Penyebab kematian dalam crowd crush yang pertama, yaitu kesulitan bernafas. Paru-paru orang tidak menemukan ruang yang cukup untuk mengembang, sehingga sulit bernapas. Mereka yang jatuh, tidak bisa berdiri karena tak ada ruang, dan akhirnya terinjak-injak atau tertimpa tubuh orang lain yang ikut terjatuh.

Sementara, stampede, sebelumnya terjadi di Kanganjuran, Malang. Banyak nyawa yang hilang akibat terjatuh, terdesak sampai terinjak-injak saat berusaha keluar dari stadion yang dipenuhi gas air mata.



Bagaimana terjadinya tragedi crowd crush di Itaewon? Cerita Saksi dan korban yang selamat

Sangat sulit menunjuk satu penyebab untuk tragedi ini. Masalah pengendalian masa itu sangat kompleks jika melihat sumber-sumber artikel ini tentang crowd crush.

Biasanya lonjakan pengunjung bisa amat mematikan karena beberapa faktor utama; jeleknya desain lokasi dan buruknya persiapan mengatasi lonjakan jumlah pengunjung.

Lokasi Itaewon tidak pernah berubah. Perayaan Halloween selalu dirayakan di sana selama bertahun-tahun. Namun lonjakan pengunjung tahun ini tampaknya tak diantisipasi dengan baik.

Menurut kesaksian seorang pengunjung yang selamat, orang-orang terus berdatangan dari 2 arah berlawanan; dari gerbang stasiun kereta bawah tanah dan dari jalan utama. Hingga akhirnya kerumunan  tertumpuk di depan Hotel Hamilton. Digambarkan oleh peta di bawah ini:

Lokasi crowd crush yang memewaskan banyak orang. (Kpoppost.com)

Pemerintah setempat, mengaku telah mengerahkan lebih banyak polisi untuk mengatur lalu lintas pejalan kaki dan pengunjung. Akan tetapi, dari kesaksian korban yang selamat, mereka tak melihat polisi atau petugas keamanan mengatur kerumunan seperti tahun-tahun perayaan Halloween sebelumnya. Hasilnya, lalu lintas pejalan kaki dan jumlah pengunjung menjadi tidak terkendali, begitu pula dengan jumlah pengunjung di pesta Halloween malam itu.

Lokasi Itaewon, sebenarnya, jauh dari kata ideal untuk menampung banyaknya jumlah pengunjung. Dari foto-foto bisa dilihat betapa sempitnya gang tersebut. Bahkan, seorang WNI yang diwawancarai oleh TV One mengungkapkan buruknya jalur evakuasi di sana. Tidak ada jalan lain menuju distrik hiburan. Hanya satu jalur untuk naik dan turun di sana.


Saat crowd crush terjadi, akan sangat sulit bagi orang-orang di dalamnya untuk keluar. Bahkan yang berbadan tinggi sekali pun bisa ikut terangkat (kaki melayang) karena himpitan dari orang-orang.


Mereka yang pingsan bisa terjatuh dan menjadi efek domino. Alhasil, terjadi tumpukan tubuh-tubuh manusia yang semakin menghalangi jalan. Ada kesaksian dari pengunjung yang berhasil selamat, bahwa banyak orang terinjak-ijak dan bekas injakan itu masih tertinggal di tubuh jenazah.


Tragedi Itaewon semestinya bisa dihindari, namun sebaiknya kita tetap menjaga diri

Sangat disayangkan karena tragedi ini sebetulnya bisa benar-benar dihindari. Sesuai penjelasan dari Profesor David Oliver Khasdan, seorang ahli dalam penanggulangan bencana, tidak adanya pihak otoritas yang mengatur di lokasi, ditambah tersebarnya rumor kalau sejumlah idola dan aktor ternama akan muncul di sana, memperparah situasi.


Saat ini, sudah banyak orang memberikan karangan bunga dan menyalakan lilin di tempat kejadian untuk para korban meninggal. Presiden Korea Selatan, menyatakan minggu ini sebagai minggu berkabung. Berbagai acara yang seharusnya diselenggarakan ikut ditunda untuk menghargai keluarga dan saudara korban meninggal dan terluka.

Sementara ini, kita bisa menarik kesimpulan dan sepakat bahwa; semeriah apa pun acaranya, sebaiknya jauhi kerumunan yang jumlahnya terlalu besar. Kerumunan besar itu rawan terjadi kejahatan, pelecehan, dan bencana.

Mendekati akhir tahun, pasti ada banyak sekali acara dan event-event yang diselenggarakan. Belum lagi konser-konser besar yang dinanti dan akan digelar kembali. 

Ada baiknya kita melihat kejadian ini sebagai pelajaran berharga agar tak gelap mata hanya karena mencari hiburan semata. Ingatlah ada orang-orang yang menantikan kita pulang dengan selamat.

(The Straits Times / YT)

Setelah artikel ini di terbitkan, di Gujarat, India sebuah jembatan terputus dan menewaskan 141 orang. Banyak orang berkumpul di tempat tersebut untuk merayakan Diwali. 

Referensi Luar:

  • Aljazeera - Seoul tragedy: The difference between crowd crush and stampede [https://www.aljazeera.com/news/2022/10/30/what-is-the-difference-between-a-stampede-and-a-crowd-crush]
  • The Washington Post - Here’s what causes crowd crushes like the deadly one in Seoul [https://www.washingtonpost.com/world/2022/10/29/seoul-halloween-crowd-crush-surge/]
  • Grunge - Deadliest Crown in History [https://youtu.be/xAqtvwi3lHQ]
  • How Stuff Works - How Crowds Can Kill You [https://youtu.be/ldOprmqSt7o]
  • Cheddar - How a Human Stampede Really Happens [https://youtu.be/M-uHtGKLDD0]
  • Euronews Next - The Science of Managing the Masses [https://youtu.be/kmqsc7srIfY]
Tesalonika W.

I’m a multidisciplinary artist; I write, draw, and design things. I study Japanese literature, humanities and creative robotics. Learn more: tesalonika.com instagram email

Kamu bisa beri komentar sebagai Anonim, NAMA dan URL Medsos, atau akun Google. Tidak ada moderasi komentar di situs kami. Isi komentar pengguna di luar tanggunjawab Moonhill Indonesia.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama

Pengunjung situs blog ini diangap telah membaca dan setuju dengan disclaimer konten kami.

Mau terus update? Ikuti kami di Telegram, Whatsapp atau langganan surat kabar via email di bawah ini, GRATIS!!!



Jika blog ini bermanfaat, kamu bisa mendukung kreator menghasilkan lebih banyak konten bermanfaat dengan cara memberi donasi.