Movie Logic dalam Film ‘Run’ Bagaikan Pedang Bermata Dua


Sarah Paulson kembali berperan sebagai orang jahat di film Run setelah membintangi serial original Netflix berjudul Ratched. Run merupakan film thriller garapan sutradara sekaligus penulis, Aneesh Chaganty. Filmnya bercerita tentang seorang ibu, Diane (Sarah Paulson), dan anaknya, Chloe (Kieara Allen) yang lumpuhan sejak kecil.

Pada suatu hari, Chloe merasa ada yang aneh dari ibunya, Diane. Diane sangat protektif, tidak membiarkan anaknya keluar rumah, tidak memperbolehkan anaknya bermain internet tanpa dia menemani di ruangan yang sama, bahkan tidak memperbolehkan anaknya menerima surat-surat yang datang. Keanehan Diane memuncak, membuat Chloe merasa dirinya terjebak dan tak tahu harus meminta pertolongan pada siapa.


Penampilan perdana Kieara Allen sebagai Chloe © RUN, Hulu

Aneesh Chaganty dikenal melalui film "Searching" yang bercerita tentang seorang ayah, mencari anaknya melalui internet. Searching mendapat berbagai pujian, disukai oleh banyak penonton, karena kecerdasan sutradaranya membangun ketegangan hanya dari gambaran layar komputer. Sebenarnya film Run juga menuai pujian, tapi film baru Chaganty ini tidak lepas dari banyak kekurangan. Ironisnya, kelebihan dan kekurangan Run, terletak pada satu poin yang sama. Movie logic.

Movie logic, atau logika film, adalah sebutan untuk adegan-adegan yang kurang masuk akal di dunia nyata hanya bisa terjadi dalam film. Banyak adegan yang tergolong movie logic, sehingga alur cerita jadi terkesan terlalu lebay alias dibuat-buat. Walau pun movie logic memang bisa menghibur penonton, tapi kalau kuantitasnya terlalu banyak sampai mendominasi alur cerita, ujung-ujungnya, Run malah tidak akan berkesan lama bagi penonton. Paling hanya diingat beberapa hari setelah lihat, lalu akan dilupakan begitu saja.


Penampilan Sarah Paulson Sebagai Diane © RUN, Hulu

Simpati dan empati merupakan dua hal yang berbeda. Simpati adalah rasa kasih karena kesamaan pengalaman. Sedangkan, empati keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Karakter Chloe, tokoh utama dalam film ini, mampu membuat kita sebagai penonton bersimpati, namun gagal menumbuhkan rasa empati. Alhasil, ya, lagi-lagi film ini akan dilupakan, tidak mampu memberi kesan yang terlalu dalam.

Walau pun penampilan Sarah Paulson sebagai Diane terbilang keren, dan penampilan perdana aktris Kieara Allen di layar lebar, juga mampu mengimbangi Paulson, tapi Run adalah film yang terlalu lemah karena alur cerita yang terlalu bertumpu pada movie logic. Ending-nya jadi terasa tidak memuaskan, terlewat dipaksakan untuk memberi twist. Layaknya junk food film Run memang menghibur. Tapi, bila kamu ingin menonton sebuah film yang meninggalkan kesan atau sebuah thriller cerdas seperti Get Out dan The Invisible Man, tampaknya akan dikecewakan. 

Awalnya film RUN akan dirilis untuk bioskop, namun karena ...ahem... pandemi, akhirnya film ini pun ditayangkan melalui layanan streaming Hulu.


Tess Wibisono

Hello there, I’m a multidisciplinary artist; I write, draw, and design things. I study Japanese literature, humanities and creative robotics. instagram email

Kamu bisa beri komentar sebagai Anonim, NAMA dan URL Medsos, atau akun Google. Tidak ada moderasi komentar di situs kami. Isi komentar pengguna di luar tanggunjawab Moonhill Indonesia.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama

Mau terus update? Ikuti kami di Telegram, Whatsapp atau langganan surat kabar via email di bawah ini, GRATIS!!!



Jika blog ini bermanfaat, kamu bisa mendukung kreator menghasilkan lebih banyak konten bermanfaat dengan cara memberi donasi.