Review Series "The Fall of The House of Usher" (2023) oleh Mike Flanagan


Moonhill Indonesia (moonhill.id) - Mike Flanagan sempat berjaya dengan serial THE HAUNTING OF HILL HOUSE yang booming pada 2018 silam, THE HAUNTING OF BLY MANOR di 2020, dan THE MIDNIGHT CLUB juga MIDNIGHT MASS. 

Flanagan hadir kembali dengan serial terbaru THE FALL OF THE HOUSE OF USHER di akhir 2023, tetapi, apakah serial ini mampu memenuhi ekspektasi jika dibandingkan dengan serial garapan Flanagan sebelumnya?


Series THE FALL OF THE HOUSE OF USHER sebenarnya terinspirasi dari puisi karya Edgar Allan Poe, penulis Amerika yang dikenal sebagai penulis horror thriller. Hanya satu yang tidak dimiliki oleh karya-karya Poe tetapi menjadi kekuatan dari karya-karya Flanagan sebelumnya. Apa itu? 

Hantu. Ya, Edgar Allan Poe tidak menulis tentang hantu.


THE FALL OF THE HOUSE OF USHER di Netflix berpusat pada Roderick dan Madeline Usher. Keduanya telah membangun dinasti Usher, memberikan keluarga kekuasaan dan kekayaan. Namun, semuanya mungkin terancam dengan kedatangan seorang wanita misterius yang membunuh para pewaris keluarga.

Sayangnya, ini adalah karya terlemah dari Flanagan. Flanagan memulai portfolionya dengan sangat kuat melalui THE HAUNTING OF HILL HOUSE, namun semakin lama semakin menurun dan tidak menjanjikan sejak THE HAUNTING OF BLY MANOR, dan seterusnya.


Mulai dari dikupasnya cerita sedikit demi sedikit, membahas tentang bagaimana anak-anak keluarga Usher mati satu demi satu, rupaya tidak lagi menarik saat kita sudah tahu bahwa keluarga Usher adalah orang-orang yang jahat dan tak berperasaan. 

Mungkin yang terlintas di dalam pikiran penonton adalah, "sudah sepantasnya keluarga Usher mati, dan tidak perlu membuang waktu melihat mereka mendapatkan apa yang mereka pantas dapatkan." 

Hal tersebut akhirnya membuat serial ini tak menarik untuk disimak. Mungkin film sudah cukup dari pada serial panjang berjumlah 8 episode. Dosa-dosa para anggota keluarga Usher yang terlalu generik, mudah ditebak, sebenarnya tak perlu dijabarkan dalam durasi panjang. Alhasil, THE FALL OF THE HOUSE OF USHER terasa hambar, repetitif, dan kurang berkesan.


Tess Wibisono

Hello there, I’m a multidisciplinary artist; I write, draw, and design things. I study Japanese literature, humanities and creative robotics. instagram email

Kamu bisa beri komentar sebagai Anonim, NAMA dan URL Medsos, atau akun Google. Tidak ada moderasi komentar di situs kami. Isi komentar pengguna di luar tanggunjawab Moonhill Indonesia.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama

Mau terus update? Ikuti kami di Telegram, Whatsapp atau langganan surat kabar via email di bawah ini, GRATIS!!!



Jika blog ini bermanfaat, kamu bisa mendukung kreator menghasilkan lebih banyak konten bermanfaat dengan cara memberi donasi.