Peran Keterampilan di Era Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan



Moonhill Indonesia (moonhill.id) - Sering jadi perdebatan, apakah kita masih perlu belajar menggambar atau belajar menulis, belajar coding atau programming, jika AI (artificial intelligence) atau Kecerdasan Buatan sudah bisa melakukan semuanya untuk kita?

Pertanyaan yang aneh. Tetapi, pertanyaan atau pernyataan bahwa kita tidak perlu lagi memiliki keterampilan apa pun ketika AI semakin canggih, menandakan bahwa masih banyak orang yang belum memahami peran keterampilan dalam hidup kita.

Mari kita pahami bersama, peran dan fungsi keterampilan bagi manusia. Bukan AI atau Robot, tetapi untuk manusia. Kemudian, kamu bisa memutuskan sendiri, apakah kamu masih ingin mengasah keterampilanmu atau tidak.

{tocify} $title={Table of Contents}


Kenapa sih kita perlu punya keterampilan?

Keterampilan bisa berbagai macam bentuknya. Keterampilan berburu, memasak, menari, melukis, terserah, ada banyak sekali jenis dan wajah dari keterampilan. 

Pada mulanya, saat manusia masih berburu di hutan dan tinggal dalam goa, tiap-tiap anggota kelompok memiliki keterampilannya masing-masing. Walau pun feminis radikal mungkin tidak setuju, tapi wanita dan laki-laki benar-benar berbeda dari segi kemampuan fisik yang kemudian berdampak pada penguasaan jenis-jenis keterampilan. 

Para wanita lebih banyak terampil merawat rumah dan menjaga anak, semenatra para pria lebih terampil dalam berburu. Pembagian tugas itu memampukan manusia yang masih menjadi pemburu pengumpul (hunter gatherer) bertahan hidup sampai menjadi spesies dominan saat ini.

Jadi, jika ditanya, "kenapa emangnya kita perlu punya keterampilan?Jawaban singkat dan padatnya adalah untuk bertahan hidup.

Tapi jangan berhenti dulu berpikir sampai di segi fisik saja. Sebab bertahan hidup tidak hanya soal fisik di era post-modern yang aneh ini. Bertahan hidup juga soal kondisi emosyonel dan/atau psikis atau psikologis.

Tak sedikit praktek terapi psikolog yang melibatkan kegiatan menulis. Keterampilan menuliskan perasaan di dalam buku harian atau jurnal, memampukan seseorang memetakkan pikiran dan perasaannya. Ibarat menggambar peta dari ruang-ruang yang selama ini tak disadari. Dengan mengasah keterampilan menulis, seseorang bisa memahami dirinya dan dunia disekitarnya.

Bertahan hidup juga soal kemampuan kognitif, misalnya berkomunikasi dengan orang lain. Dengan kemampuan berkomunikasi, kita bisa mengumpulkan banyak orang dan bekerjasama untuk bertahan hidup. 

Untuk beberapa abad terakhir, adanya revolusi industri dan sistem ekonomi, merubah keterampilan, tak hanya sebagai kebutuhan bertahan hidup, tapi juga sebagai komoditasPunya keterampilan → dapat kerja → dikasih uang → bisa makan, bisa bayar tempat tinggal → kualitas hidup bertahan atau bertambah. 

Prosesnya jadi lebih panjang. Do you see where I'm going with this? 

Jadi, walau pun AI bisa membuat banyak hal, AI bisa menulis, AI bisa menggambarterserah. Tapi kita sebagai manusia adalah makhluk yang lebih butuh bertahan hidup, bukan AI. Maka, tentu saja, belajar hal baru, memiliki dan mengasah keterampilan, masih punya peran penting dalam kehidupan manusia. Mau ada AI kek, IA kek, terserah.

AI akan berguna untuk korporasi, tapi manusia perlu terus bertahan hidup

Kita semua komplain tentang pekerjaan. Kita tidak suka disuruh bekerja di akhir pekan atau melebihi waktu bekerja. Tapi kita tampaknya panik, depresi, dan kehilangan harapan saat mesin akan menggantikan pekerjaan kita dalam waktu dekat ini.

Saking lamanya kita hidup dalam sistem kapitalisme dan menjadikan keterampilan sebagai komoditas, kita lupa bagaimana dunia tanpa kapitalisme dan bagaimana kehidupan tanpa pekerjaan.

Kita terbiasa menukar keterampilan kita dengan uang. Kita terbiasa menggunakan keterampilan untuk menarik pemberi kerja. Sampai suatu hari, semua keterampilan itu bisa digantikan oleh mesin. Lalu, kita lupa dan kehilangan arah, mengapa kita perlu memiliki keterampilan.


AI memang dapat meniru keterampilan manusia, tetapi manusia perlu terus bertahan hidup. Memang, mempelajari coding tidak akan lagi menjamin kemudahan mencari kerja, tetapi mempelajari coding bisa membantumu memahami bagaimana cara AI dibuat, dilatih, dan bekerja. Kamu pun kenal dengan teknologi yg sekarang mendominasi kehidupanmu, dan kemungkinan kamu tidak ditipu, dibohongi, dicelakai atau dimanfaatkan oleh pemilik dan pembuat teknologi itu pun semakin besar.

Belajar ya belajar aja, tidak ada ruginya mengasah keterampilan baru. Seharusnya, kepuasan hidupmu tidak harus bergantung dengan kamu mudah mendapatkan pekerjaan atau tidak. Sebab ada banyak hal lain dalam hidup ini selain kerja-kerja-tipes. Mungkin AI dan Robot nantinya bisa mengembalikan kesadaran itu kembali untuk manusia.

Jika ada alasan mengapa AI harus ada, menurutku justru inilah kesempatan manusia menentukan kembali siapa mereka dan apa peran mereka di planet Bumi. Apakah manusia ingin menjadi robot yang ingin terus menukar kemampuan sebagai komoditas dan waktu hidupnya untuk bekerja? 

Selanjutnya, kita akan membahas tentang post-labour ecomonics atau ekonomi pasca buruh. Jika kamu tidak ingin ketinggalan update terbaru, pastikan kamu ikuti blog Moonhill.id di Telegram atau Whatsapp.
Tesalonika

I write, draw, and design things. I study Japanese literature, humanities and creative robotics. Learn more: tesalonika.com instagram email

Kamu bisa beri komentar sebagai Anonim, NAMA dan URL Medsos, atau akun Google. Tidak ada moderasi komentar di situs kami. Isi komentar pengguna di luar tanggunjawab Moonhill Indonesia.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama
Pengunjung situs blog ini diangap telah membaca dan setuju dengan disclaimer konten kami.

Mau terus update? Ikuti kami di Telegram, Whatsapp atau langganan surat kabar via email di bawah ini, GRATIS!!!



Jika blog ini bermanfaat, kamu bisa mendukung kreator menghasilkan lebih banyak konten bermanfaat dengan cara memberi donasi.